1930-1939. Berjuang melawan
Sejarah
Komitmen untuk Keadilan dan
Demokrasi
FC Barcelona
telah berkomitmen untuk melakukan reformasi sosial, politik dan budaya, yang
diprakarsai oleh pemerintahan Republik Catalan. Surat Kabar resmi Klub pada
Oktober 1932 menunjukkan posisi klub yang jelas: "popularitas klub kami
itu tak dapat disangkal dimana mencakup di dalamnya unsur-unsur yang tidak
berhubungan dengan olahraga." Partisipasi klub dalam bentuk tindakan
politik dan budaya merupakan bagian dari komitmen ini.
Pada awal
Perang Sipil, para karyawan klub dihadapkan dengan ancaman yang diterima FC
Barcelona dan siap mereka hadapi, itu yang kemudian mendorong mereka untuk
membuat keputusan komite yang penting, yang pada akhirnya mampu menyelamatkan
organisasi. Komite yang tegas dan menunjukkan tekad untuk tidak melepaskan diri
dari tanggung jawab sebelum perang.
1930 ditandai
oleh ketidakstabilan politik dan krisis yang meluas, yang pastinya membawa
pengaruh pada FC Barcelona. Selama dekade ini, Club mengalami banyak bencana
dan tragedi, termasuk di dalamnya kematian pendiri klub, berdirinya Republik
Spanyol yang Kedua, Perang Saudara Spanyol dan pembunuhan presiden klub Josep
Sunol. Singkatnya, itu merupakan suatu periode yang ditandai dengan
ketidakpastian, dapat terlihat dari penurunan jumlah anggota klub dan
pembatalan kontrak beberapa pemain.
1930. Kematian Sang Pendiri,
Joan Gamper
Pada tanggal
30 Juli 1930, Barca menerima kabar terburuk yang pernah didapatkan sebelumnya:
Joan Gamper telah bunuh diri karena masalah pribadi. Pendiri Club - seorang
pengusaha yang dinamis dan olahragawan, yang bertanggung jawab untuk
menciptakan dan mengembangkan sebuah klub sepak bola yang unik - telah
meninggal, ketika berusia 52 tahun. Kematian pendiri FC Barcelona adalah sebuah
pertanda buruk untuk tahun berikutnya.
1931-1936. Barca masa Republik
Tanpa Gamper,
klub memulai pada sebuah periode yang melihat kehidupan publik menjadi semakin
dipolitisasi. Selama tahun 1930-an, masyarakat menunjukkan minat yang lebih
pada pertemuan-pertemuan politik dibandingkan pada pertandingan sepak bola. Barca
memasuki periode sejarah yang ditandai dengan komitmen klub kepada reformasi
sosial, politik dan budaya. Peraturan-peraturan klub baru, talah disetujui pada
Mei 1932, organisasi didefinisikan ulang. Menurut artikel pertama, FC Barcelona
adalah "asosiasi budaya dan olahraga". Pada bulan Oktober klub
membuat sebuah Komite Budaya, yang mempromosikan kegiatan-kegiatannya untuk
anggota.
Pada bulan
Juli 1935, presiden baru Josep Sunyol i Garriga membuat hal tersebut semakain
jelas, di mana dia sangat percaya akan
cita-cita politik yang didasarkan atas nasionalisme Catalan. Menggunakan moto
"Olahraga dan Kewarganegaraan", dia menekankan pentinganya hubungan
antara masyarakat dan olahraga.
1930-1936. Kejayaan pada masa
Republik: Empat Gelar Catalan Football Championships
Sepakbola
ditempatkan di belakang dari berbagai peristiwa politik dan sosial yanga ada
dari waktu ke waktu dan tidak ada massa dalam jumlah yang besar publik
mengikuti dan menyaksikan pertandingan di Les Corts. FC Barcelona memasuki masa
kemunduran dan tim yang dahulunya telah terlihat begitu menjanjikan, tetapi
hanya beberapa tahun kemudian tidak memenangkan Piala Liga atau Kejuaraan
Spanyol; keberhasilannya hanya terbatas pada Kejuaraan Liga Catalan.
Dengan Sunyol
sebagai presidennya, keadaan ekonomi klub mengalami sedikit perbaikan dan Barca
memulai melaksanakan kebijakan olahraga yang baru dengan melakukan pembelian
pemain baru yang menjanjikan. Perang, bagaimanapun bagaimanapun juga merupakan
sebuah kemunduran besar untuk tim yang terlihat memiliki masa depan yang cerah.
1936. Kematian Tragis Presiden
Josep Sunol i Garriga
Sunol adalah
anggota parlemen dari (partai sayap kiri yang mendukung kemerdekaan Catalan)
ERC di Madrid. Ketika itu Sunol sedang dalam perjalanan dari Valencia ke
parlemen, di mana dia pergi atas nama Joan Casanovas, presiden Parlemen
Catalonia. Kunjungan itu dilakukan dalam kapasitas politik dan tidak terkait
dengan penandatanganan salah seorang pemain sepak bola. Hari itu, pada tanggal
6 Agustus 1936, Josep Sunol ditembak mati oleh pasukan Francisco Franco.
Itu merupakan
satu saat paling sulit yang pernah dialami oleh Catalonia dan Spanyol, Barca
tanpa presiden dan di tengah-tengah revolusi.
1937. Liga Mediterania
Selama musim
1936-37, Federasi Sepakbola Catalan menjadi tuan rumah dari sebuah turnamen di
mana ada enam tim Catalan dan empat tim Valencia yang bermain di dalamnya.
Kompetisi yang diadakan ini bukanlah turnamen Liga, yang telah dibatalkan
karena perang. FC Barcelona menjadi juara Liga Mediterania. Sejak 1939, tidak
ada tim yang pernah memenangkan gelar ini lagi karena liga yang seperti ini
dihapuskan melalui dekrit menyusul kemenangan yang diperoleh Franco.
1937. Perjalanan Penyelamatan
ke Benua Amerika
Perang Sipil
(1936-1939) mengguncang Spanyol dengan sangat serius dan sepak bola telah
menjadi korban di antaranya. Sebuah komite buruh telah mengambil alih dan mengontrol
klub yang dijalankan secara kolektif melalui organisasi CNT-FAI kelompok yang
anarkis.
Untuk
menghindari perang dan pada saat yang sama, berusaha memperoleh dana untuk
memperbaiki kondisi keuangan organisasi yang menyedihkan, Barca berangkat untuk
melakukan perjalanan menuju Meksiko dan Amerika Serikat. Beberapa pemain tim
tidak pernah kembali lagi ke Barcelona. Tim diterima di Meksiko pada musim
panas 1937 sebagai duta demokrasi dan kebebasan.







0 komentar:
Posting Komentar